Share the Dreams

Berpindah Harapan

Pada musim pemilu 2014 ini terdapat gejala berpindah harapan. Sepuluh tahun yang lalu, masyarakat berseri-seri mengarahkan pilihan pada PD (Partai Demokrat), dengan harapan PD yang bisa dihandalkan memajukan bangsa. Harapan tersebut seolah pupus setelah munculnya berbagai isu maupun serangan ke PD serta berbagai keanehan sikap oknum internal PD yang membuat kepercayaan massa menurun.

Saat ini masyarakat ramai-ramai meninggalkan PD menuju labuhan harapan baru yaitu PDIP. Hal itu jelas terlihat dari hasil pemilu legeslatif tahun 2014 ini, dimana terjadi perpindahan jumlah yang kontras: PD anjlok dari peringkat ke satu tahun 2009 ke urutan ke empat tahun 2014. PDIP melonjak menjadi peringkat ke satu tahun 2014 ini dengan perolehan suara 18.95% sedangkan PD hanya mendapat 10,19%. Harapan dan kepercayaan masyarakat berpindah dari PD dan ke partai lain yaitu ke PDIP. Mengapa pindahnya ke PDIP, tidak lain dan tidak bukan karena figur Jokowi yang berasal dari PDIP. Jokowi telah dikenal luas dengan gaya yang fenomenal dan merakyat sejak menjadi walikota Solo. Besar harapan masyarakat bahwa kesejahteraan bangsa bisa meningkat dengan kepemimpinan Jokowi.  Akankah harapan itu bisa terwujud ataukah itu hanya ilusi masyarakat?

Jawabanya adalah 50:50 Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa mengurusi “bangsa yang luas” bukanlah hal mudah. Keberhasilan dalam hal ini ditentukan oleh banyak faktor dan banyak orang yang beraksi dibelakang layar. Akankah harapan rakyat untuk kemajuan bangsa bisa dipenuhi dengan kempemimpian Jokowi? Jawabnya adalah tetap 50:50 juga. Pencitraan bukan selalu berkonotasi negatif, adalah sah-sah saja selama tidak berbenturan dengan estetika dan moral. Jatuhnya pilihan massa tidak terlepas dari kesempurnaan citra atau pencitraan Jokowi yang tumbuh di masyarakat. Ingat dahulu masyarakat melihat kesempurnaan serupa pada SBY (PD) kini masyakarat sendiri yang mengingkarinya. Apakah track record Jokowi sempurna? Tidak ada track record yang sempurna, ingat berbagai hal kecil seperti janji-janji walikota yang tidak bisa terwujud. Ingat ketika ingin membawa Esemka menjadi Mobnas (Mobil Nasional) itupun gagal. Bagi saya bukan masalah tercapai atau tidaknya suatu keinginan, tetapi dari pola track record dan ketepatan pengambilan keputusan mencerminkan seberapa tingkat keberuntungan dan keberhasilan sebagai pemimpin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: