Share the Dreams

Mengapa Demokrat Terpuruk

Anjlognya pamor PD (Partai Demokrat) cukup menarik perhatian kita. Masih teringat 10 tahun yang lalu yaitu tahun 2004 disusul tahun 2009, pada masa-masa itu pamor PD sangat bagus, seiring harapan masyarakat yang mendambakan kemajuan bangsa. Satu-satunya partai yang bercitra baik dan menjanjikan adalah PD. Tak terlepas dari partainya, maka hal yang berpengaruh lainnya adalah tokohnya dan capresnya dengan citra yang sangat baik.

Akhir pamor Demokrat nampaknya ada di tahun 2014, dimana dalam quick count pemilu legeslatif tercatat hanya mendapat urutan keempat dengan perolehan suara sekitar 10% saja (anjlog dari no. 1 ke no. 4). Dulu masyarakat percaya pada PD, sekarang pastinya lari ke partai-partai lain.

Tentu ada pelajaran yang bisa diambil dari berbagai sisi. Saya telah merasakan menurunnya pamor PD ini beberapa tahun terakhir, juga telah memprediksi bahwa perolehan suara bakal menurun drastis. Pada waktu itu belum tahu seberapa parah anjlognya, hingga terlihat di pemilu legeslatif 2014 ini. Dengan kata lain kepercayaan masyarakat menurun drastis terhadap PD, Itulah sebab utama perolehan suaranya jeblog. Sedangkan pemicu ketidakpercayaan pada PD diantaranya adalah:

Isu korupsi
Mau tidak mau PD terkena dampak korupsi karena beberapa kadernya tersangkut isu korupsi. Meskipun sebenarnya itu adalah oknum, dan masalah korupsi sendiri masih gamang, tetapi pandangan masyarakat terlanjur bulat bahwa PD adalah partai yang korupsi. Bahkan pandangan seperti itu bakal sulit dirubah, masyarakat cukup meyakini tanpa harus memahaminya apalagi membuktikannya. Isu korupsi memang cenderung suudzon (berburuk sangka), dan ber-praduga bersalah. Itulah kondisi masyarakat kita yang juga didukung peran media massa.

Di lain pihak partai lain diuntungkan dengan isu korupsi yang melanda PD, karena seolah-olah tidak ada oknum korupsi dari partai lain. Walaupun oknum di partai besar lain bisa jadi lebih banyak yang korupsi, tetapi opini masyarakat terlanjur tergiring bahwa korupsi adalah PD.

Masyarakat tidak merasakan kesejahteraan
Sulit disangkal bahwa sebagian besar masyarakat tak merasakan income value bertambah. Meskipun PNS gajinya dinaikan terus-menerus, meski dana terus digelontorkan lewat berbagai jalur distribusi negara. Semua itu tak mampu merubah perasaan masyarakat bahwa kita ternyata masih tidak sejahtera apalagi lebih bahagia.

Ketakseimbangan terjadi karena dinaikannya gaji PNS secara sistematis. Satu kali kenaikan gaji menimbulkan efek dua kali kenaikan harga. Belum lagi kenaikan TDL, BBM,pajak dan lain-lain juga memicu kenaikan harga.

Kenaikan gaji satu golongan kecil tidak bisa dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Penggelontoran dana besar-besaran di berbagai jalur memicu inflasi. Itu kenyataan pahit ditengah kebanggaan yang berpendapat bahwa masyarakat bisa disejahterakan dengan nilai uang yang tinggi.

Tidak ditemukan opsi lain selain hanya menaikan gaji. Tidak ditemukan opsi lain selain menaikan harga (bbm, listrik, pajak dll). Kenaikan gaji dan kenaikan harga bagaikan lingkaran setan, kesejahteraan masih jauh dari harapan.

Mengobok-obok masyarakat Jogja
Seperti kurang kerjaan saja, melalui Kementrian Dalam Negri masyarakat Jogja diobok-obok dalam isu “sultan tidak otomatis gubernur”. Hal seperti ini juga diulang-ulang hingga hampir-hampir menimbulkan konflik. Ini mungkin bukanlah policy partai, tetapi masyarakat menilai pembuat konflik adalah PD.

Semua juga tahu pendekatan seperti ini adalah salah, tetapi politisi PD justru membanggakan kesalahan itu. Akhirnya terjadi pengununduran diri secara masive oleh masyarakat, dalam hal ini terutama adalah masyarakat Jogja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: