Share the Dreams

Menyusuri Sungai Purba

peta-sadeng.jpgMenyusuri aliran Bengawan Solo Purba sebuah tema yang cukup menantang, saya pun ikut acara itu hari minggu kemarin (17/12/2006). Mengingat untuk ke lokasi harus melewati jalan menanjak, sering crowded dan lumayan jauh, maka kami bermalam di rumah teman di daerah Wonosari (sekitar 50an km dari Dermaga Sadeng). Esok paginya jam 5.30 baru kami berangkat. Jalan aspal menuju Sadeng berada diantara perbukitan kapur dan sesekali terlihat jurang curam yang indah.

Pegunungan kapur konon ceritanya adalah dasar lautan, jadi sekarang nampak bagaikan bukit-bukit karang. Pantai Laut Selatan Jawa “didongkrak” oleh proses alami tumbukkan lempeng bumi, sehingga permukaanya naik melebihi daratan (berlangsung selama ribuan sampai jutaan tahun). Hasilnya sekarang menjadi pemandangan yang indah, dimana lagi kalau tidak di pegunungan seribu Kabupaten Gunung Kidul.

Lintas alam ini menyusuri lereng bukit-bukit cadas putih yang panas sepanjang lebih kurang 10 km (dari rencana semula 22 km). Beberapa ruas jalan merupakan jalan setapak melewati areal bercocok tanam masyarakat setempat.

Di daerah yang termasuk susah air ini ada terlihat juga sebuah tandon air besar yang mungkin dibangun oleh PDAM dengan sumber air dari gua kecil dalam tanah (lihat peta tepatnya di Desa Sumberagung). Disebelahnya daerah bernama Tlogo Asat, mungkin daerah ini dulunya berisi air. Penduduk disekitar perbukitan itu sangat jarang, tidak dijumpai rumah sama sekali disekitar lokasi hiking. Ini memang daerah yang tidak mudah untuk dihuni.

Setelah melewati jalan-jalan setapak di lereng-lereng bukit kapur, jalan aspal mulai terlihat kembali menjelang rute perjalanan terakhir. Tapi..(ga’ seperti yang dilihat) untuk mencapainya masih harus melewati jalan berliku-liku yang cukup panjang dan panas . Beberapa orang dan saya pun sempat terpeleset kerena tanahnya licin.

Walaupun kegerahan tapi saya puas dengan perjalanan lintas alam ini. Kesempatan untuk berolah raga sambil menikmati pemandangan langka. Sekaligus juga bisa menguji kemampuan fisik. Ternyata fisik saya masih ok, no problem dengan jalan cepat 10 km naik turun bukit & dibawah terik matarahi🙂

Dalam acara ini rupanya banyak yang bertanya-tanya: dimana sih Aliran Bengawan Solo Purba yang disebut-sebut. Karena kita ngga merasa melalui daerah sungai apapun. Tak banyak yang tahu, termasuk panitia !?😦

Sepanjang lintasan aspal kembali ke Sadeng saya berjalan diantara dua lajur perbukitan kapur yang tinggi dengan tebing curam. Sebuah pemandangan yang indah dan menakjubkan. Mengamati irama perbukitan dan jalanan, perasaan saya mengatakan ini mirip dengan sungai. Inikah dasar sungai purba itu yang menuju ke laut dan Dermaga Sadeng adalah muaranya?

Pertanyaan tadi terjawab setelah saya lihat peta countur yang terdapat tanda aliran Bengawan Solo Purba. Ya.. tepat dugaan saya, sejak awal tadi saya bertemu jurang yang curam dan indah dalam perjalanan menuju Sadeng. Jalan yang saya lewati dalam lintas alam sampai ke pantai Sadeng adalah aliran Bengawan Solo Purba! Wow.. hebat & besar Bengawan Solo itu ! Mungkin bekas Bengawan Solo ini akan tampak lebih jelas bila dilihat dari foto udara.

Alur sungai itu diperkirakan aktif sekitar 5 juta tahun yang lalu! belum ada manusia dong? Pantas saja ngga pada merasa melewati bekas sungai😛 pasti telah banyak sekali perubahan. Sekarang saja digunakan untuk bercocok tanam. Sulit membayangkan akhirnya sekarang Bengawan Solo mengalir ke utara ke Laut Jawa (bermuara di Gresik, Jatim). Mungkin karena perbukitan seribu meninggi dan mengepung aliran sungai sehingga mengalir ke laut utara? (jadi ingat lagu Bengawan Solo karya mbah Gesang) Subhanallah.. luar biasa kuasa Allah.

Yang terlewat adalah saya tidak sempat melihat-lihat lebih detil Dermaga Sadeng itu sendiri, seperti pelabunan dan pelelangan ikan, gimana sih.. tapi itu semua karena kesibukan pada masalah hiking saja.

Buat Badan Pariwisata Prop. DIY next time kalau mengadakan acara seperti itu, pikirkan juga aspek pengenalan lokasi kepada peserta, karena mengenal lokasi cukup bernilai tinggi.

– – –

Beberapa tautan berikut ini tentang Bengawan Solo Purba:

Comments on: "Menyusuri Sungai Purba" (5)

  1. Selamat Tahun Baru 2007. Terima kasih sudah memasang tautan ke situs kami (http://www.yogyes.com/). Namun sepertinya url-nya keliru (http://-nya dobel🙂. Mohon diperbaiki.

  2. #1, Terima kasih, (http://) dobel sudah dikoreksi. Selamat Tahun Baru juga, semoga sukses!

  3. wah menarik sekali, pada kesempatan yad kami mau akan mengunjunginya…

  4. kebun anggur said:

    Numpang ngambil gambar ya, gan?! Btw..BS purba masih ninggalin aliran sungai/ nggak?

    • @kebun anggur: silahkan copy gambar, aliran air sudah tidak ada, bekasnya sungai pun tidak begitu saja terlihat, perlu berimajinasi utk melihatnya, makasih udah mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: