In Memory

25Okt08

Mbak Emy, begitulah bila aku dengar bu guru memanggilnya, dia adalah istri dari seorang temanku. Ketika saya datang ke rumahnya selasa kemarin (14/10), perasaan haru merasuk apalagi bila melihat kedua puteranya dengan baju hitam duduk disampingku. Mereka memang masih kecil mungkin masih SD, tetapi ibunya telah meninggalkan mereka pada usia 40 tahun.

Innalihahi wa inna illahi roji’un.

Pemandangan itu menyulut alam bawah sadar, hingga basah di sudut mata tatkala mereka ikut mensholatkan ibunya bersamaku.

Tak bisa membayangkanya, bagaimana repotnya bila harus mengurusi dua hati tanpa ibunya. Anak-anak juga repot karena harus memulai menempuh hidup tanpa keberadaan ibunya sejak menginjak usia sangat muda.

Ya Allah limpahkanlah bimbingan dan keselamatan kepada mereka agar dapat menjalani hidup dengan baik di jalan yang Kau ridhoi.

Meski nampak aktif di berbagai kegiatan, mbak Emy sudah beberapa tahun menderita breast cancer. Begitu seriusnya breast cancer itu, ini untuk ketiga kalinya saya melihat kasus yang sama. Meski telah menjalani berbagai pengobatan medis maupun alternatif, namun keputusan terakhir bukan di tangan manusia.

Sekali lagi pelajaran buat kita yang masih mempunyai, bahwa setiap saat kita bisa dipanggil tanpa ada yang bisa menghalangi. Setiap yang hidup pasti mati, semua yang kita lihat bukanlah milik kita dan pasti kembali ke asalnya.

Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah dia

Selamat Jalan mbak Emy. Foto diatas adalah kenangan yang saya ambil setahun yang lalu pada acara funbike 17an.



No Responses Yet to “In Memory”  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply