Sebatas Impian

15Jan08

Sejak mengenalmu, inilah pertama kali ini aku melihat kau bohong padaku. Saat itu kau kelihatan beda. Aku tahu itu bukanlah dirimu. Biasanya senyum khas-mu hangat, terbuka dan apa adanya.

Cahayamu meredup, candamu memudar
Bicaramu pada angin, sapaku menghilang di awan
Tak menyisakan waktu, kau vonis diriku tak berguna

Begitu mudahnya keputusanmu, hanya dalam hitungan detik. Begitu seriusnya dirimu seolah tak mau peduli lagi, kau lempar realita yang selama ini menenamimu.

Tak percaya kau melakukannya, tak ada salahku yang sebanding dengan vonismu itu. Tak pernah aku menyakitimu, menyusahkanmu atau mengganggu dirimu.

Ini tak masuk akal, tak adil dan tak berperasaan, pepatah itu mengingatkanku… ”Habis manis sepah dibuang

Aku tak tega melihat kau memaksakan diri menjadi orang lain. Mengapa kau harus sebegitu kejam, bercanda ria bersama awan, diatas hati yang terluka. Tiap hari, tiap jam, tiap detik kau menyakitiku.

Apa yang kau lakukan kawan, mengapa tak bicarakan saja bila ada yang mengganjal di hati? Kalau masalah itu datang pada diriku tentu kita bisa atasi bersama. Kalau masalah itu ada dalam dirimu kenapa kau diam padaku.

Biasanya kau selalu mengekpsresikan hatimu, hingga kita bisa bercanda bersama berbagi pengalaman. Biasanya sapa khasmu yang cempreng itu menggema sampai ujung koridor. Kini yang nampak hanya tubuh yang membisu dan suara mesin presensi “kriiik” tanda kehadiran seseorang.

Sakit.. ya pasti sakit, aku merasa dicampakkan, direndahkan, menjadi persona non gatra ketika ternyata kau tertawa ria di sisi lain. Sebagai manusia tentu aku punya kesalahan tapi… ibarat sebuah vonis, hukuman ini tak sebanding dan tak ada hubungannya dengan salah-salahku, sungguh kejam!

Biarlah aku sakit, mungkin inilah takdirku, toh semua sudah tak ada gunanya lagi. Tuhan, ilusi atau kenyataankah yang aku hadapi ini?

Seribu kali kau sakiti diri ini tetap temanmu. Aku tetap sahabatmu… yang sejati. Kebangeten, aku tak bisa membencimu, karena membencimu tak sesuai kata hatiku karena aku menyayangimu.

Itulah perasaan Satrio terhadap sahabatnya Riana, mereka teman serasi menurut pandangan teman-temannya. Tetapi Satrio telah beristri dan Riana pun telah bersuami, mereka juga telah memiliki momongan. Dalam hati mereka berkomitmen untuk menjaga persahabatan yang sejati. Persahabatan mereka sebatas tugas, profesi dan sosial-kemanusiaan. Namun demikian ada juga yang menilai lebih dari itu, namanya juga gosip.

Satrio lebih progresif dan perhatian pada orang yang dirasa cocok dengannya, tak terkecuali terhadap Riana. Sesuatu yang manusiawi dan Satrio selama ini berusaha untuk selalu berlaku logis. Karenanya dia ingin lebih banyak berbagi dan mengganggap Riana sebagai saudara sendiri. Riana telah membangkitkan inspirasi tersendiri bagi Satrio, yaitu suatu keindahan, semangat tinggi, komitmen serta dedikasi .

Sementara Riana lebih suka apa adanya tak terlalu vulgar. Persoalan sehari-hari yang bervariasi menghampiri, dari guyonan teman, pertanyaan, gosip dan hal-hal pribadi lainnya. Tiba-tiba Riana memutuskan semua ini harus berakhir. Satrio nggak boleh seperti itu, aku sudah memberi sinyal tapi dia tapi dia ngeyel. Akhirnya Riana yang nervous berguman: “akan aku tunjukkan siapa diriku, bahwa aku bisa lebih kejam”. Dan itulah yang terjadi cerita diatas dari sudut pandang Satrio.

Duh.. sayang sekali ya persahabatan yang indah harus berakhir bukan karena sesuatu yang penting bukan bersifat prinsip .

Kebaikan Satrio ternyata telah menyinggung hati Riana. Ketika merasa kehilangan, Satrio baru menyadari kalau selama ini dia telah menyayangi Riana. Satrio pun shock karena menurut perasaanya dia tak pernah menyakiti Riana.

Riana yang menjadi emosional dan sensitif menganggap Satrio telah ingkar komitmen sahabat. Akhirnya apapun yang dilakukan Satrio menjadi salah. Riana lebih mementingkan egonya, tak percaya pada Satrio dan menganggap persahabatannya tak berguna. Walaupun tak terkatakan, di lubuk hati yang paling dalam Riana sebenarnya tak menemukan alasan kenapa dia harus melakukan itu semua pada Satrio. Tapi sebagaimana umumnya perempuan, Riana sekokoh batu tak tergoyahkan angin.

- Satrio: Kita mungkin berhadapan dengan impian, kita bisa menjaga impian itu.
- Riana: itu mimpi yang terlarang!

Mimpi koq dilarang?

Satrio & Riana keduanya tak jauh dari saya karenannya saya berusaha mengabadikan kenangan ini lewat sebuah pena hati :-)



9 Responses to “Sebatas Impian”  

  1. PERTAMAXXXX Thanks artikelnya Om. Bagus, Aku suka ini!

  2. “Cahayamu meredup, candamu memudar
    Bicaramu pada angin, sapaku menghilang di awan
    Tak menyisakan waktu, kau vonis diriku tak berguna”

    *merinding Ade membacanya mas …. TAKUT”

    -Ade-

  3. @Ade:
    takut kalau harus berhadapan dengan situasi seperti itu..? hmm semoga nggak pernah terjadi padamu… :-p

  4. 4 dea

    Teruslah berjuang untuk bisa membahagiakan Riana. Perjuangkan terus tali persahabatan Satrio dengan Riana.

  5. @dea: Opo maksude? sepertinya anda tahu banyak apa yg tak tertulis :-) sebuah persahabatan yang baik dan berguna pantas dipertahankan, kenapa harus berakhir apalagi tanpa alasan. Alangkah senangnya kalau saya bisa memberikan kebahagiaan kepada sesama.

  6. 6 dea

    ya maksudnya tuch tetaplah menjadi satrio yang dulu dan jangan hiraukan riana yang bersikap seperti itu, cuek terhadap omongan orang yang terpenting jangan nyakitin hati riana

  7. @dea: Iye saya tahu de, semoga mereka tetap bisa memaknai-nya secara positif positif. Pokoke sing apik-apik wae lah… siapa yg nggak senang melihat orang yang disayanginya bahagia :-)

  8. lika-liku sebuah pertemanan…
    jadi inget waktu SMA dulu..
    :)

  9. @oRiDo: ya semua orang bisa mengalaminya…


Leave a Reply