Siapkah Kita?
Entri ini saya tulis untuk tanggal 24 Desember tapi… karena masih “sibuk berat” baru sempat saya entrikan sekarang.
Lihat hidup itu indah kawan, nikmatilah jangan stres, itu ketika dia menghiburku. Intonasi seseorang bisa diubah lho kalau mau, itulah pandanganya dari sisi psikolog ketika saya sedikit mengeluhkan intonasi. Dan “terima kasih sudah menjadi guruku”, itu sebuah sanjungan yang indah! Wah bisa GR nih, walaupun saya tak merasa mengajari sesuatu padanya, tetapi ya sudahlah untuk kesekian kalinya saya dapat sanjungan sebagai guru hehe..
Itulah yang saya ingat, tatkala berdiri menatap upacara selamat tinggal seorang rekan saya. Dia menyandang nama Maria Gerarda, namun kami mengenalnya dengan panggilan Shinta. Perjuangannya melawan breast cancer telah usai sampai disini, sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian perjuangan untuk menemukan jati dirinya selama ini. Di saat-saat akhir, dengan latar belakang psikologinya, dia berusaha menemukan jati diri manusia. Sekali lagi saya merenungi beratnya sebuah perjuangan. Sudah berapa kali saya menyaksikan daun-daun yang berguguran; hanya bertanya dalam hati tak adakah jalan lain? Continue reading ‘Siapkah Kita?’
Filed under: Spirit | 1 Comment
Tags: breast cancer, guru, misteri
In Memory
Mbak Emy, begitulah bila aku dengar bu guru memanggilnya, dia adalah istri dari seorang temanku. Ketika saya datang ke rumahnya selasa kemarin (14/10), perasaan haru merasuk apalagi bila melihat kedua puteranya dengan baju hitam duduk disampingku. Mereka memang masih kecil mungkin masih SD, tetapi ibunya telah meninggalkan mereka pada usia 40 tahun.
Innalihahi wa inna illahi roji’un.
Pemandangan itu menyulut alam bawah sadar, hingga basah di sudut mata tatkala mereka ikut mensholatkan ibunya bersamaku.
Tak bisa membayangkanya, bagaimana repotnya bila harus mengurusi dua hati tanpa ibunya. Anak-anak juga repot karena harus memulai menempuh hidup tanpa keberadaan ibunya sejak menginjak usia sangat muda.
Filed under: Kesehatan, Spirit, Uncategorized | Leave a Comment
Tags: breast cancer, haru, kembali
Meranggas
Setengah enam pagi (10/10) cuaca berkabut disekitar rumah saya, pandangan mata terbatasi kabut cukup tebal hanya menjangkau beberapa meter ke depan. Pemandangan ini jarang terjadi, layaknya di dataran tinggi saja. Sebuah pohon Pete menjulang tinggi nampak jelas dengan latar belakang kabut yang terang oleh pantulan sinar mentari pagi.
Ia telah kehilangan seluruh daunnya yang gugur oleh waktu serta terik di siang hari. Kehilangan itu tak menjadikannya mati, sedikit demi sedikit daunya tumbuh kembali, menggantikan daun-daun tua yang telah selesai bertugas. Proses yang kita kenal dengan istilah meranggas. Menahan diri dari penguapan air oleh panas yang berlebihan, serta mengganti daun lama dengan daun baru untuk mendapatkan hasil fotosintesis yang lebih baik.
Begitulah sebuah pohon berganti tunas, berganti semangat dengan asa yang selalu diperbaharui. Begitu juga seharusnya yang terjadi pada diri kita di Bulan Syawal ini. Bulan yang kita kenal sebagai bulan peningkatan. Setelah menjalanni training Ramadhan sebulan penuh, menahan diri dari berbagai nafsu, manusia seharusnya mengalami peningkatan; pengalaman spritualnya, kematangannya dan pemahamannya akan kehidupan semuanya harus meningkat. Dan setelah kita menyadari akan kesalahan-kesalahan kita maka tinggalkan kesalahan masa lalu dan gantilah dengan kebenaran. Tentu saja peningkatan itu terjadi bila training kita berhasil, tapi berhasilkah kita? Hanya diri kita sendiri yang tahu.
Selamat Idul Fitri 1429 H, maafkan bila ada salah dan khilaf selama ini.
Semoga amalan kita diterima Allah SWT, Amin.
Filed under: Spirit, Uncategorized | Leave a Comment
Tags: idul fitri, meranggas, syawal
Doa dan Itikaf
Asyik.. ngeblog lagi nih.. setelah sekian lama dipusingkan kerjaan dan relasi. Oh ya ada saja satu teman saya yang telah menyita sebagaian besar energi, sampai-sampai ngga bisa ngebog, halah… keterlaluan. Yah saya terima saja dan kayanya hidup harus selalu seperti itu. Meski telat baru kali ini ngeblog lagi, di bulan Ramadhan yang udah hampir usai ini.
Ya Allah janganlah sampai Kau serahkan seluruh masalahku untuk kuselesaikan sendiri tanpa bantuanMu walau sekejap mata.
Sepenggal doa Nabi ketika beritikaf di bulan Ramadhan. Sungguh indah doa itu dan rangkaian doa lain yang tak sempat saya catat dari tausyiah kamis yang lalu, sayang ya? Hatiku pun ingin mengatakan yang sama meneladai suri tauladan dan uswah kita, nabi Muhammad SAW.
Filed under: Spirit | Leave a Comment
Tags: itikaf, malam
Sementara
Tak usah sedih semua hanya sementara
Tak usah pula berbangga-bangga
Kaya dan miskin itu ujian, suka sengsara juga ujian
Cari hikmahnya dengan sabar dan bersyukur…
Tangis sementara, gagal sementara, lemah sementara
(bersyukurlah)
Tawa sementara, sukses sementara, kuat sementara
Miskin sementara, susah sementara, renta sementara
Kaya sementara, senang sementara, muda sementara
Pahit sementara, kecewa sementara, tertindas sementara
Manis sementara, puas sementara, berkuasa sementara
Sedih sementara, frustasi sementara, patah hati sementara
Lapar sementara, dahaga sementara, menderita sementara
* Lirik sebuah lagu berjudul sementara by Anant
Semua serba sementara adakah yang tak sementara?
Filed under: Spirit | Leave a Comment
Tags: bersyukur, hikmah, sementara, ujian
Menangislah Dia
Dia lelaki…
Tak peduli bergulirnya pagi
Tak berpikir luka nan perih
Tak kenal pedihnya tangis
Menangislah dia…
Menutup hati dengan bibir kelu
Menahan senyum di lubuk kalbu
Meletakkan asa terbelenggu
Angin menghempaskan impianya
Menerbangkan senyum dan tawa
Mengentaskan hayal dalam nyata
Menjatuhkan kerikil-kerikil ego
Keindahan yang tak terucapkan
Kecantikan yang tak terlihatkan
Melodi senada garis-garis wajah
Menerpa halus di relung-relung jiwa
Menyulut haru di sudut kalbu
Mengalirkan gemercik di kerasnya batu
Wajarkah seorang lelaki menangis? malu?
Filed under: Abstrak, Prosa | 2 Comments
Tags: egoisme, lelaki, luka, menangis
Terima kasih mimpi
:: Pamitan
“Aku mau mengundurkan diri mas…” Hanya itu pesan yang aku terima lewat sebuah inspirasi. Greget wajahnya begitu ku kenal, datar pandanganya memang benar. Aku sendiri tak begitu memperhatikan apa maksudnya, karena bagiku kondisi kita terlalu aman saat ini. Merasa terlalu aman itulah orang yang tak pernah sadar! Karena tak pernah ada kondisi terlalu aman di dunia ini.
:: Mengantarku Pulang
“Terima kasih kau telah mengantarku pulang…”, inspirasi kedua yang aku terima. Aku tiba di sebuah jalan dengan membawa beban. Seorang cewe berkendara mirip vario, mengantarku pulang. Dia dengan rambut agak pendek, bercelana panjang, postur sedikit lebih kecil dibanding aku, cukup ramping, paras menawan dan mature. Aku diantar pulang ke tempat dimana anak dan istri menunggu, kami sama-sama happy. Nuwun ya.. ucapku, menirukan kalimat-kalimat mu dulu.
Filed under: Abstrak | 1 Comment
Tags: mimpi, pulang, terima kasih

