Sementara
Tak usah sedih semua hanya sementara
Tak usah pula berbangga-bangga
Kaya dan miskin itu ujian, suka sengsara juga ujian
Cari hikmahnya dengan sabar dan bersyukur…
Tangis sementara, gagal sementara, lemah sementara
(bersyukurlah)
Tawa sementara, sukses sementara, kuat sementara
Miskin sementara, susah sementara, renta sementara
Kaya sementara, senang sementara, muda sementara
Pahit sementara, kecewa sementara, tertindas sementara
Manis sementara, puas sementara, berkuasa sementara
Sedih sementara, frustasi sementara, patah hati sementara
Lapar sementara, dahaga sementara, menderita sementara
* Lirik sebuah lagu berjudul sementara by Anant
Semua serba sementara adakah yang tak sementara?
Filed under: Curhat, Spirit | 0 Comments
Tags: bersyukur, hikmah, sementara, ujian
Menangislah Dia
Dia lelaki…
Tak peduli bergulirnya pagi
Tak berpikir luka nan perih
Tak kenal pedihnya tangis
Menangislah dia…
Menutup hati dengan bibir kelu
Menahan senyum di lubuk kalbu
Meletakkan asa terbelenggu
Angin menghempaskan impianya
Menerbangkan senyum dan tawa
Mengentaskan hayal dalam nyata
Menjatuhkan kerikil-kerikil ego
Keindahan yang tak terucapkan
Kecantikan yang tak terlihatkan
Melodi senada garis-garis wajah
Menerpa halus di relung-relung jiwa
Menyulut haru di sudut kalbu
Mengalirkan gemercik di kerasnya batu
Wajarkah seorang lelaki menangis? malu?
Filed under: Abstrak, Curhat, Prosa | 2 Comments
Tags: egoisme, lelaki, luka, menangis
Terima kasih mimpi
:: Pamitan
“Aku mau mengundurkan diri mas…” Hanya itu pesan yang aku terima lewat sebuah inspirasi. Greget wajahnya begitu ku kenal, datar pandanganya memang benar. Aku sendiri tak begitu memperhatikan apa maksudnya, karena bagiku kondisi kita terlalu aman saat ini. Merasa terlalu aman itulah orang yang tak sadar! Karena tak pernah ada kondisi terlalu aman di dunia ini.
:: Mengantarku Pulang
“Terima kasih kau telah mengantarku pulang…”, inspirasi kedua yang aku terima. Aku tiba di sebuah jalan dengan membawa beban. Seorang cewek berkendara mirip vario, mengantarku pulang. Dia dengan rambut agak pendek, bercelana panjang, postur sedikit lebih kecil dibanding aku, cukup ramping, paras menawan dan mature. Aku diantar pulang ke tempat dimana anak dan istri menunggu, kami sama-sama happy. Nuwun ya.. ucapku, menirukan kalimat-kalimat mu dulu.
Filed under: Abstrak, Curhat | 1 Comment
Tags: mimpi, pulang, terima kasih
Maafkan aku
(For my best friend, untuk sahabatku)
Maafkan aku
… bila menyentuh jiwa angkuh mu
… bila menjamah ranah ego mu
… bila menghalau cerah senyum mu
… bila menutup bening pandang mu
Maafkan aku
… telah membiarkan perginya angin
… bersama dinginnya pagi
… menjejakkan kaki di bukit
… meninggalkan hati terpatri
Maafkan aku
… atas galau membungkam mimpi
… atas duka menghujam hati
… atas cemburu di sudut hati
… atas lembut sungai di mata ini
Maafkan aku sahabatku…
Filed under: Curhat, Prosa, Uncategorized | 2 Comments
Tags: Angkuh, cemburu, Maaf
Bermain dengan Hotspot
Kata hotspot dulu banget.. sering terdengar dalam berita ketika sedang membicarakan citra satelit pada peristiwa kebakaran (hutan). Citra satelit yang terdapat sorotan panas (hotspot) mengindikasikan bahwa pusat-pusat kebakaran ada di daerah tersebut.
Analog dengan itu tetapi beda konteks, hotspot saat ini menjadi kata untuk menunjukkan area yang terjangkau layanan wi-fi (wireless fidelity) atau jaringan nir kabel. Dalam area tersebut terdapat titik-titik pusat pancaran wi-fi yang disebut access points. HotSpot akhirnya menjadi suatu istilah yang menunjukkan adanya fasilitas internet tanpa kabel pada suatu area. Dan bila kita bicara masalah hotspot saat ini, maka yang dimaksud adalah adanya wireless network atau wi-fi, khususnya adalah Internet. Coba googling aja: hotspot pasti berhubungan dengan internet wi-fi.
Filed under: Teknologi Informasi | 0 Comments
Tags: AAA, hotspot, wi-fi
Untuk sebuah senyuman
(Mengapa kau bersedih?)
Karena
Tiada senyum
Tiada perasaan
Tiada kejujuran
Tiada hati
Teman
Terlalu bersalah kah aku
Terlalu jelek kah aku
Terlalu rendah kah diriku
Tuhan
Terlalu hina kah hamba Mu ini
Begitu tak pantas kah mahluk Mu ini
Untuk sebuah senyuman…
Filed under: Abstrak, Curhat, Prosa | 2 Comments
Kartini Effect
Subuh tadi dalam perjalanan menuju langgar, seperti biasa saya melewati sebuah salon. Tapi.. ada yang lain dari biasanya karena di pagi buta ini terlihat aktifitas di salon itu. Pagi-pagi begini sudah sibuk? Sesaat kemudian sepulang dari langgar sudah banyak pelanggan di salon itu. Pada ngapain ya mereka, apa ada hajatan jadi pagi-pagi sekali harus sudah bersiap-siap?
Jadi ingat sekitar seminggu yang lalu saya dengar negosiasi antara pemilik dan pelanggan untuk tata rias tanggal 21. Waktunya setelah subuh, bahkan ada yang mau datang jam 2 malam! Saya ingat-ingat kembali apa yang mereka bicarakan, o… iya mereka mau meriaskan putra-putrinya dalam rangka mengikuti sebuah acara di sekolah.
Tanggal 21 kesibukkan di salon-salon meningkat diserbu pelanggan, untuk menyewa kostum atau untuk merias. Sampai-sampai ada yang mau datang jam 2 malam. Apa nggak ngantuk ya, kasihan juga kan anaknya?
Filed under: Curhat, Uncategorized | 0 Comments
Tags: Hari Jadi, Kartini, Ulang Tahun
